Laman

Sabtu, 12 Maret 2016

Kehidupan di Batavia, Illinois, Amerika Serikat


    Batavia adalah suburban kota Chicago. Suburban adalah suatu pemukiman yang terbentuk karena pertumbuhan jumlah penduduk di kota besar yang melaju cepat. Kalau diibaratkan nih ya: andaikata Chicago itu adalah Medan, maka Binjai adalah Batavianya. Andaikata Jakarta adalah Chicago, maka Bogor adalah Batavianya.
Ehh, tunggu dulu! Chicago itu kota besar yang menjadi tempat syuting beberapa film ternama di Amerika Serikat, bukan? IYA, BENAR.


Chicago


INFORMASI UMUM

Kota: Batavia
County (kabupaten): Kane
State (negara bagian/provinsi): Illinois
Luas Area: 25km2 atau 9.64 sq mi
Jumlah Penduduk: 26,318 Jiwa (perkiraan 2012)
Kepadatan: 1019 jiwa/km2


LOKASI


    Batavia terletak sekitar 41 miles (66 km) dari pusat kota Chicago. Batavia adalah bagian dari Tri-City area, yang merupakan area vernakular bersama kota Geneva dan St. Charles. Jika ketiga kota ini digabung, maka akan terlihat seperti sebuah kota independen karena ketiga kota ini memiliki iklim, keadaan lingkungan dan kondisi perekonomian yang hampir sama. Sudah hal yang lazim jika penduduk Batavia suka berbelanja ke Geneva, atau penduduk Geneva suka mendatangi restoran di St. Charles, atau penduduk St Charles yang berwisata ke Batavia.


LANDMARKS

Sekilas suasana parade Homecoming di Batavia, bersama anggota International Club:
video


Pusat Kota Batavia
Sumber: classicrealtyhome.com
Pusat Kota Batavia
Sumber: altamanu.com


Salah satu penampakan kota Batavia saat sore

Dari Jembatan Fox River

Batavia High School's Football Field

Near by: Harold Hall Quarry Beach


Dari parkiran Restoran Chilli

Lingkungan perumahan:
video


KONDISI EKONOMI


    Ini nih bagian favorit saya. Teman-teman pasti tahu bahwa New York City (NYC) adalah kota para milyader di dunia. Tapi, kesenjangan sosial di NYC terbilang tinggi. NYC juga memiliki banyak pengangguran. Sehingga, Batavia memiliki nilai rata-rata pendapatan rumah tangga yang jauh lebih tinggi dari New York City ataupun rata-rata nasional (Amerika Serikat) karena umumnya kondisi perekonomian penduduk Batavia cukup merata. Saya sudah tinggal lebih dari enam bulan di Batavia tetapi saya tidak pernah sekalipun menemukan tuna wismawan.


BATAVIA
Median (nilai tengah) pendapatan rumah tangga per tahun:
$90,228
Pendapatan rumah tangga (rata-rata) per tahun:
$113,923


NEW YORK CITY
Median (nilai tengah) pendapatan rumah tangga per tahun: $50,711


AMERIKA SERIKAT

Median (nilai tengah) pendapatan rumah tangga per tahun: $51,939
Pendapatan rumah tangga (rata-rata) per tahun: $72,641


Tapi, jangan salah sangka. Kehidupan di Batavia tidak dipenuhi dengan materialistis dan hedonisme. Saya malah sangat terinspirasi dengan gaya hidup masyarakat Batavia.


Hal yang saya pelajari, adalah:


INDEPENDEN


    Secara keseluruhan, Amerika Serikat mempunyai persentase penduduk sebagai wirausahawan yang lebih tinggi dari Indonesia. Begitu pula dengan Batavia. Banyak penduduk Batavia yang memiliki bisnisnya tersendiri meskipun mereka sudah menyandang status profesi yang lain. Contoh terdekat adalah kedua orang tua angkat saya. Mereka berprofesi sebagai dokter hewan, tetapi mereka juga berprofesi sebagai pemilik klinik hewan tersebut - bahkan mereka punya dua klinik dan memperkerjakan orang lain.


PEKERJA MUDA


    Umumnya anak remaja di Amerika Serikat bekerja paruh waktu untuk perencanaan finansial yang akan digunakan saat memasuki Perguruan Tinggi. Tapi, jumlah pekerja muda di Batavia sangat signifikan.
Hampir di seluruh restoran atau toko di kota Batavia, ada anak SMA sebagai pelayan paruh waktu di dalamnya. Mereka diajarkan mandiri mencari nafkah sejak muda. Terlebih lagi, banyaknya orang dewasa yang memiliki toko atau restoran, sehingga membutuhkan banyak pekerja muda. Mereka tidak malu bekerja, meskipun orang tua mereka terbilang sejahtera secara materi.


RELAWAN


    Di Batavia, banyak sekali tempat untuk mengayomi orang yang kurang mampu. Di sekolah saya, juga banyak sekali klub relawan yang mengumpulkan kebutuhan sandang untuk mereka. Saya pernah menjadi relawan di Batavia Food Pantry. Itu adalah tempat dimana para toko grosir menyumbangkan kebutuhuhan pangan. Yang paling saya kagumi ketika menjadi relawan disana adalah ketika orang-orang yang mendapat bantuan tersebut mengambil kebutuhan secukupnya.

Contoh: A (orang yang mendapat bantuan) berhak mendapatkan 3 botol shampo, 3 bar sabun, 3 buah kotak sereal, 3 kaleng daging. Namun, karena A tahu diri dan hanya mengambil kebutuhan secukupnya, A hanya mengambil 2 botol shampo, 3 bar sabun, 1 kotak sereal dan 3 kaleng daging. Biasanya, orang yang kurang mampu akan mengambil sebanyak-banyaknya, tapi tidak dengan penduduk di sini.

Minggu, 06 Maret 2016

24 Hours per Day to Accomplish






    When I was in 8th grade, I complained once about the time that I have in my life which is 24 hours per day. I really wanted to make a novel, I was very passionate about writing. But, feels like I didn't have enough time. I had to do hours of doing homework and getting good grades at school. I wished that I had 26 hours per day, which is impossible.

    As I am getting older, I feel that 24 hours per day is enough. Complaining takes time, right? We complain because we think about the future and assume that there will be no time to do the next tasks. But, do we realize that when we are complaining and not focusing on the present moment, we are actually wasting our time. Probably, the time that we have wasted for complaining is the same amount with the time that we can use for getting done another task.


    It feels crazy to know what I wanted at that time. I wanted to make a novel, get the top 10 highest grade in my middle school, be active on Twitter and Blog, and wanted to watch movie in cinema twice in a week. Do you want to know what was the result? I did not get anything of those!  But, it was totally okay. It gave me a lesson that I have to prioritize my goals.


     When I just started my 9th grade, I told myself that I just wanted to focus on my academic life and finally I got good grade and continue my study in top high school in an excellent class. (In Indonesia, student start the high school at 10th grade and it is not moving class. You have to stay in the same classroom everyday because the teacher moves from one class to another class. In my school, they have a placement test. The top 36 students will be placed in an 'excellent class' and will get more homework and more challenging classes).


     Approximately a year ago, I started to think about the importance of accomplishing another dream. "What is the benefit? Why I have to do that? Do I really want to accomplish that? Does it make me happy? Does it have any impacts to the society?" I have seen a lot of articles tell that we have to be careful about what we want to accomplish. Some people want to accomplish a dream to proof his/her haters that he/she can. Some people want to achieve something for getting people's approval. But of course, some people still want to achieve something to give positive impacts to the society. So, whenever we start a plan to achieve something, make sure that we are in pure mind and calm condition.


The biggest dream of the human is to be happy


   Two days ago, I read an article written by the founder of PrepScholar who attended Harvard University. The article is How to Get Into Harvard and the Ivy League, by a Harvard Alum. I have read a lot of article about tips to get good grades, get high score of SAT/ACT, and how to get into top university. But, this one is the longest and my favorite! It enlightened me to plan better about my study. That article told me that instead of being a well-rounded student, we have to be a 'big spike' or in another name: We have to be a world-class student who masters something that we really love and passionate about.


    If Bill Gates can't plays Football, who cares? He owns Microsoft, dude!. If J.K. Rowling is very bad in Biology, who cares? Hundreds million copies of her novel have been sold! We don't have to be good in science, sport, and art at the same time, right?
Anyway, that article drove me to start doing what I really love. I am happy to do what I love. I could be a master of anything, but not everything. Everyone could be a master of what they love. I love to study Humanities and Social Studies. So, what about you?
   

Sabtu, 05 Maret 2016

Cukup

     Jangankan benar-benar di dalam kondisi amarah, mendengar orang lain berdebat sudah melelahkan. Emosi menguras energi. Cukup! Sadarkan diri segera dengan memproduksi perasaan yang baik. Siapa yang tak mau hidup bahagia? Siapa yang tak ingin damai hatinya? Tentu saja semua orang ingin memiliki hidup bahagia dengan segala impiannya yang telah terwujud. Semua orang ingin hidup dengan hati yang damai.
    "Kita merasa bergairah karena tantangan dan hidup itu penuh tantangan! ". Tapi, orang yang suka tantangan biasanya memiliki hati yang damai untuk melihat tantangan dengan perspektif yang positif. Mereka tahu bahwa dengan tantangan, mereka bisa banyak belajar tentang potensi yang mereka punya. Kalau kamu melihat tantangan dengan sudut pandang negatif, tak akan sanggup kamu berkata, "Kita merasa bergairah karena tantangan dan hidup itu penuh tantangan! "

Sekian.

Your positive energy,
Dzikra Handika

Drafts

This is a reminder for myself that I have a lot of drafts that needs to be posted. This one also a notice for my audiences that I still have something to be posted :) :D Hahaha.
I am prioritizing which one will be posted first. Hmmm...